“Sstt, soal bab II, nomor 1 apa jawabannya?” Weeer …, kertas dilempar. Seeer…, kertas ujian digeser, tulisan di meja dan bangku tampak kecil-kecil, njelimet.

Itu hanya sebagian contoh dari bentuk penyontekan. Tulisan tidak hanya dibuat di meja. Namun juga di dinding, penggaris mika, kertas yang dilipat di bawah kalkulator, tisu, telapak tangan.

Kalau diamati, orang yang menyontek memang kadang memperoleh nilai yang tinggi daripada orang yang diconteki. Jika kita memberikan jawaban, berarti kita mengajari dia untuk membodohi dirinya sendiri. Aspek lain yang muncul, siswa yang belajar sungguh-sungguh kecewa. Sebab, hasilnya malah lebih rendah dari orang yang menyontek.

Dengan menyontek, bukan memberikan motivasi untuk belajar. Tetapi, membiarkan teman bermalas-malasan tanpa mau berusaha sendiri.

Saya kira alanglah baiknya, jika tata tertib (tatib) yang ada di sekolah juga mengatur kedisiplinan siswa termasuk menyontek. Dalam tatib tersebut, diatur bagaimana tatib melakukan ujian.

 

Begitu pula dengan sanksi yang akan diberikan jika ada murid yang kedapatan membawa krepekan atau sontekan. Selama ini, sanksi yang diberikan sangat ringan. Seperti mengerjakan tugas atau hukuman fisik lainnya.

Bahkan kalau ketahuan membawa contekan, paling-paling contekannya dibuang. Atau, ditegur lain kali jangan menyontek lagi. Itu saja.

Apa dampaknya? Siswa tak akan takut lagi menyontek. Paling-paling ditegur atau dibuang kertas contekannya. Akhirnya, perilaku sejenis menyontek itu terbawa saat siswa dewasa. Saat dewasa, ia punya jabatan di pemerintah, di politik, dan di BUMN. Akhirnya, yang bersangkutan suka berhobong, menipu atau mengakali anggaran untuk cari tambahan penghasilan.

Menyontek dan korupsi hampir sama nilainya. Sama-sama ingin hasil yang baik atau besar dalam waktu cepat, tanpa mau berusaha dengan jalan atau langkah sesuai prosedur. Korupsi, menipu dan berbohong dianggap biasa seperti waktu sekolah dulu.

Tak ada hukuman dan tak ada norma yang membatasinya. Jelas, dalam menyontek akan membuat siswa dan mahasiswa menjadi ‘kebal’. “Nggak apa-apa, besok nyontek lagi. Paling cuma ketahuan dan diambil kepekannya,” kata seorang mahasiswa dengan bangga. Akhirnya, menyontek dianggap perbuatan biasa. Bukan hal yang memalukan dan rendah.

Ke depan sanksi bagi pelajar dan mahasiswa yang menyontek harus memberi efek jera. Artinya, jika dihukum waktu menjadi pelajar atau mahasiswa, maka ia takut untuk mengulanginya.

Mengapa menyontek?
Dalam kacamata psikologi, perilaku seseorang dipengaruhi oleh cara orang tersebut melihat faktor yang mempengaruhi kehidupannya atau yang disebut sebagai locus of control (pusat kendali).

Orang yang dominan dikendalikan pusat kendali internal mempercayai, bahwa kemajuan dalam hidup ditentukan oleh faktor dari dalam diri sendiri.

Mereka senang bekerja keras, mempunyai cita-cita tinggi, ulet dan menganggap kemajuan dirinya disebabkan ia bertanggung jawab terhadap hasil kerjanya.

Sebaliknya, orang yang lebih dominan dikendalikan faktor dari luar dirinya (eksternal) mempercayai bahwa keberhasilannya ditentukan oleh hal di luar dirinya seperti nasib baik, adanya koneksi dan bukan karena kerja keras diri sendiri.

Orang yang mempunyai pusat kendali eksternal cenderung beranggapan bahwa kerja keras, menepati waktu, bekerja penuh disiplin bukan faktor utama penyebab keberhasilan.

Untuk menghindarinya, siswa disarankan meyakini bahwa menyontek merupakan pintu gerbang dari perbuatan berbohong yang lebih besar, seperti korupsi. Selanjutnya, belajar mengenali diri sendiri dan setiap potensi yang dimiliki.

Menurut saya, untuk menghindari tindakan menyontek itu cukup mudah. Antara lain, percaya diri sendiri, hidup harus dimulai motivasi diri sendiri, belajar jangan dianggap beban, keadaan sekolah pun membuat iklim belajar yang sehat.

Tak kalah penting, perlu mengetahui penyebab siswa mempunyai kecenderungan menyontek. Dalam hal ini, sebagian besar malas belajar, belajar mendadak, materi tidak selesai dipelajari dan kurang percaya diri. Tidak sedikit pula yang ‘cemburu’.

Kelemahan guru/dosen secara tidak langsung memberi andil dalam siswa/mahasiswa menyontek. Bukan rahasia lagi bila banyak guru/dosen yang punya pekerjaan sampingan, demi kontinuitas dan kualitas ‘asap dapurnya’ karena tidak dapat mengandalkan pemasukan dari satu sektor saja.

Waktu untuk persiapan mengajar, mengoreksi pekerjaan siswa/mahasiswa, membuat soal ulangan/ujian dan tugas, memikirkan variasi pengajaran serta menyediakan alat peraga hampir tidak ada.

Belum lagi tuntutan orangtua ingin anaknya meraih prestasi tinggi. Tuntutan semacam itu dapat menimbulkan keinginan anak untuk menyontek, agar dapat nilai baik dan tidak dimarahi orangtuanya.

Sudah waktunya sistem pendidikan kita bersifat two way communication antara guru/dosen dan siswa/mahasiswa. Kelompok kerja makalah, presentasi, pembuatan alat peraga, studi lapangan (misalnya ke pabrik salah satu orangtua siswa) kiranya lebih digiatkan daripada menimbuni siswa/mahasiswa dengan soal tapi dikerjakan dengan menyontek.

Tak ada salahnya, kita cermati pendapat Dr Syamsu Yusuf MPd N, kepala Unit Pelayanan Teknis Lembaga Bimbingan dan Konseling UPI. Menurut ia, aktivitas menyontek merupakan wujud rasa tidak percaya diri, permalasan, spekulasi, kecurangan, irasional, dll.

Tujuan belajar mendapatkan ilmu pengetahuan dan nilai baru secara apektif, kognitif, maupun motorik. Hal itu memerlukan evaluasi untuk mendapatkan report, sejauhmana proses pembelajaran telah terjadi pada seseorang.

Namun dengan menyontek, proses evaluasi menjadi kabur. Ukuran kemampuan yang tengah dievaluasi menjadi tidak jelas.

Menurut ia, selain menipu, menyontek merupakan aktivitas spekulasi yang tinggi dan suatu bentuk sikap ingin segera mendapatkan hasil yang instan.

Kebiasaan kecil ini akan mengkristal dan menjadi cara seseorang mencapai sesuatu dan mencari jalan keluar terhadap masalah yang dihadapinya. Hal ini yang harus disadari oleh siswa didik dan pendidik, agar etos kerja pendidikan tercapai. Bila budaya instan yang terbentuk, maka rasa malas akan timbul dan membentuk sikap ingin serba mudah.

Saat ini memang perlu penelitian untuk meyakinkan tentang dampak buruk menyontek. Namun saya yakin, semua pihak akan setuju jangan sampai sistem pendidikan kita melahirkan white collar crimers.

Achsin El-Qudsy, alumni madrasah Diniyyah Muawanatul Muslimin Kenepan Kudus, alumni HI UMY

dikutip dari : http://citizennews.suaramerdeka.com/index.php?option=com_content&task=view&id=578

Diposkan oleh goblog’s blog di 00:55 0 komentar