Oleh M Syamsiro

BANGSA Indonesia masih diliputi duka mendalam akibat meletusnya Gunung Merapi dan tsunami di Mentawai yang menimbulkan banyak korban. Sebelumnya pun beberapa bencana silih berganti datang dan muncul banyak persoalan berkait dengan evakuasi para korban di pengungsian.

Salah satu persoalan yang sering muncul berkait dengan pasokan listrik. Bencana sering diikuti kerusakan jaringan listrik PLN, sehingga perlu alternatif pembangkit listrik untuk kondisi darurat. Penggunaan generator set (genset) sudah akrab di masyarakat untuk berbagai aktivitas.

Namun saat terjadi bencana, pasokan bahan bakar minyak (BBM) mungkin terhambat untuk dapat menggerakkan genset. Karena itu perlu alternatif genset yang lebih fleksibel dari sisi bahan bakar, antara lain genset berbahan bakar biomassa.

Biomassa mudah diperoleh di mana-mana, baik dari limbah kayu, limbah gergajian, maupun sekam padi. Jadi sangat memungkinkan alat itu diterapkan di daerah bencana yang mungkin jauh atau sulit dari jangkauan BBM.

Genset itu menggunakan prinsip gasifikasi biomassa. Biomassa diubah menjadi gas bahan bakar, selanjutnya dibakar pada mesin pembakar. Mesin tersebut bisa berupa diesel atau mesin stirling.

Genset berbahan bakar biomassa bisa didesain dengan berbagai ukuran sesuai dengan kapasitas keluaran listrik. Community Power Corporation (CPC), misalnya, telah mengembangkan genset biomassa berkekuatan dari 5 kW sampai dengan maksimum 50 kW.

Produk yang diberi merek Biomax itu memiliki beberapa keunggulan. Misalnya, desain sederhana, mudah dan murah dalam fabrikasi, instalasi sederhana, mudah dibawa ke mana-mana, emisi rendah, operasional otomatis, dan bisa untuk kombinasi sebagai penghasil listrik dan air panas.

Alternatif

Ada beberapa langkah prinsip kerja Biomax. Pertama, biomassa masuk ke dalam gasifier, tempat proses gasifikasi. Pada tahap itu, biomassa diubah menjadi gas bahan bakar dengan komponen terdiri atas hidrogen, karbonmonoksida, dan metana.

Kedua, gas itu dilewatkan pada pengondisi gas untuk menurunkan suhu mencapai suhu ruangan. Proses itu bisa menggunakan alat penukar panas. Panas itu kemudian dimanfaatkan sebagai pengering biomassa, sebelum masuk ke gasifier atau untuk penghasil air panas.

Ketiga, gas dimasukkan dalam filter untuk menyaring sehingga benar-benar bersih dan selanjutnya aman digunakan pada mesin pembakaran. Mesin pembakaran yang digunakan bisa mesin diesel atau mesin stirling.

Saat ini sedang dikembangkan penggunaan turbin gas kecil dan sel bahan bakar (fuel cell) sebagai pembangkit tenaga. Generator telah disiapkan untuk pembangkit listrik yang digerakkan tenaga yang dihasilkan dari mesin-mesin itu.

Auburn University bekerjasama dengan Alabama Power dan CPC juga telah mengembangkan gasifier bergerak dengan kendaraan trailer.

Generator itu dapat memakai berbagai macam limbah kayu dan pepohonan, sehingga sangat luwes. Peralatan itu telah digunakan untuk keperluan pendidikan di kampus dan di lapangan.

Indonesia rawan bencana alam, seperti gempa bumi, tsunami, gunung meletus. Jadi perlu dirancang sistem tanggap bencana untuk pasokan listrik. Pemanfaatan genset berbahan bakar biomassa menjadi salah satu altenatif yang cukup baik dengan melihat kondisi geografis bencana karena alat itu menggunakan biomassa sebagai bahan bakar yang tentu sangat mudah diperoleh. Ke depan, pemerintah dan LSM yang bergerak dalam penanganan pascabencana perlu mempertimbangkan pemakaian alat semacam itu untuk mengurangi penderitaan korban. Jadi mereka bisa lebih nyaman di pengungsian dengan ketercukupan kebutuhan listrik.

Sumber: http://www.suaramerdeka.com